| terumbu karang Wakatobi |
Saya membuktikan “surga di bawah” ketika menyelam di sekitar Pulau Tomia dan Hoga. Tak usah sampai menyelam, dari kapal pun terumbu karangnya terlihat jelas. Begitu masuk… widiih, terumbu karangnya rapat menempel, tumbuh subur dan sehat. Sekali jalan memang tidak pernah sama pemandangannya. Mulai dari karang yang bentuknya seperti otak, di sebelahnya ada karang berbentuk hamparan kembang kol dan mawar raksasa, lalu bentuk pentol-pentol, bentuk meja, dll. Belum lagi soft coral-nya mulai dari bentuk bunga kecil, pohon, jamur, sampai kipas laut (sea fan) yang gede-gede dan berwarna-warni ngejreng.
Ikannya sendiri luar biasa banyaknya. Memang tidak ada ikan besar karena bukan perairan dalam, tapi ada penyu, lion fish, lobster, bumphead parrot fish, ular laut, moray eel, termasuk makhluk kecil macam nudibranch yang masing-masing beragam jenisnya. Ikan Nemo (clownfish) sih buanyak banget dan nggak cuma berwarna oranye kuning doang, tapi juga ada yang ungu dan biru. Saya juga sempat bertemu dengan schooling ratusan ikan barakuda yang tajam-tajam sepanjang semeter berenang mengelilingi saya di situs bernama Table Coral City.
Suatu kali saya bela-belain menyelam jam 6 pagi demi melihat ikan pada saat rush hour di situs bernama Ali Reef. Ya ampun, saya sampe ‘pusing’ sendiri melihat gerombolan ikan yang seliweran dari segala arah dengan kecepatan tinggi. Ratusan ikan warna biru berderetan ngebut dari kanan ke kiri, ikan warna kuning ngebut juga dari kiri ke kanan, ikan putih ngebut dari atas ke bawah, ikan hitam dari bawah ke atas… dan persis di depan muka saya ratusan ikan GT (giant trevally) masing-masing sepanjang setengah meter memblokir pandangan! Wuaah!
keren! |
| Pulau Hoga |
Soal “surga di atas”, pelabuhan Wanci aja bersih, tidak ada sampah dan ceceran oli kapal sehingga air lautnya bening-ning-ning. Paling keren memang resor muahal itu yang terletak di Pulau Tomia. Maklum pemiliknya yang bule itu benar-benar menjaga kebersihan dan kerapian pantai, bahkan orang yang bukan tamu aja dilarang merapat di laut depan resor. Yah demi kelestarian alam, nggak apa-apa deh. Agak minggir jauh, saya menginap di Tomia Dive Center. Sama-sama di pinggir pantai, tapi di depan bungalow saya tidak berpasir melainkan langsung laut.
| Pulau Nda'a |
| Patuno Resort |
Ah, nggak ada air tawar dan listrik doang sih sepadan dengan surganya Wakatobi. Baru aja menyetujui pernyataan itu, sambil menunggu pesawat kembali ke Makassar, Imin mengajak saya nongkrong di Patuno Resort yang hanya berjarak 10 menit dari bandara Wanci. Wedeh, baru tau ada resor kelas menengah di pinggir pantai berpasir putih yang keren, nyaman, dan ada air dan listrik 24 jam! Rupanya resor ini baru beroperasi beberapa bulan yang lalu, katanya sih milik Bupati Wakatobi. Jadi sekarang berlibur di Wakatobi ada pilihan, ada penginapan kelas backpacker di Hoga, kelas borju ratusan dolar semalam di Tomia, dan kelas menengah di Wanci. Setelah seminggu tidak ketemu toilet duduk dan irit air, di sana otomatis perut saya bergejolak dan menumpahkan seluruh isi di dalamnya. Hehe!
0 Response to "Wakatobi: surga di atas, surga di bawah"
- Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai dengan isi konten.
- Komentar yang tidak diperlukan oleh pembaca lain [spam] akan segera dihapus.
- Apabila artikel yang berjudul "Wakatobi: surga di atas, surga di bawah" ini bermanfaat, share ke jejaring sosial.
Konversi Kode